Pariwisata

PANDUAN MENJELAJAHI LITTLE INDIA DI SINGAPURA

Unik adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Singapura. Perpaduan beragam budaya, kelompok etnis dan agama, kota modern yang tetap menjunjung tinggi tradisi. Di Singapura, anda dapat mengunjungi Kuil Cina, Mesjid, Kuil Hindu, dan gereja yang semuanya berada disatu lingkungan. Perayaan agama yang tidak pernah berhenti dan hidangan yang menggugah selera yang tidak dapat ditemukan ditempat lain.
Anda dapat menikmati makan pagi bersama seekor orang utan, mempelajari upacara minum teh cina dan menyaksikan pertunjukan musik Broadway, semuanya dalam satu hari.
Meskipun mengecap pendidikan tinggi seperti layaknya di dunia modern, orang-orang India di Singapura tetap mempertahankan kebudayaan dan tradisi para leluhur mereka.
Agama, ikatan kekeluargaan dan masakan saling mengisi dalam kehidupan mereka. Perayaan-perayaan yang meriah, hubungan keluarga multi generasi yang turun temurun dengan pesta yang sangat ditunggu-tunggu. Meskipun demikian tidak perna ada konflik, kehidupan orang-orang India saat ini merupakan perpaduan yang serasi antara lama dan baru, religius dan sekuler.
Sebuah pusat kegiatan yang penuh warna dan sedang berkembang, daerah ini akan benar-benar mempesona semua indera anda, mulai dari campuran warna pada sari bercorakan perhiasan dan karangan bunga yang indah, aroma santapan lezat yang menggoda, irama yang ceria dari lagu pop Hindi, hingga sensasi memiliki tato dengan bahan pewarna (henna) atau bahkan ramalan keberuntungan yang disampaikan oleh seekor burung nuri.
Meskipun masyarakat India telah menandai wilayah tersebut sebagai daerah mereka, tempat itu tetap tak terlepas dari sentuhan bangsa Asia lainnya. Anda dapat menemukan pasar tradisional Cina dan pusat pedagang kaki lima khas Singapura, serta gereja-gereja dan mesjid-mesjid di dekatnya.
Bukan sesuatu yang mengejutkan apabila setia kunjungan ke Little India merupakan sesuatu yang mempesona. Panduan ini akan membantu anda menemukan bagaimana Singapura yang modern masih penuh dengan pesona masa lampau yang memikat.

TAMAN NASIOANAL BUNAKEN
Taman Nasional Bunaken terletak di Propinsi Sulawesi Utara. Secara geografis Taman Nasional Bunaken dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Bagian Utara dan Bagian Selatan.
Bagian Utara meliputi lima pulau, dan daerah pesisir antara Molas hingga Tiwoho yang disebut Pesisir Molas-Wori”.
Bagian Selatan seluruhnya terdiri daerah pesisir antara Desa Poopoh dan Desa Popareng
yang disebut “Pesisir Arakan-Wawontulap”.
Taman Nasional Bunaken terletak tidak jauh dari Manado, Ibukota Propinsi Sulawesi Utara.
Dengan naik perahu motor, jarak Manado dan Pulau Bunaken bisa ditempuh dalam 35 menit.

Luas keseluruhan Taman Nasional Bunaken adalah 79.056 Ha. Di mana, luas Bagian Utara adalah 62.150 Ha dan luas Bagian Selatan 16.906 Ha.


Keindahan laut Bunaken sebenarnya sudah puluhan tahun terindentifikasi oleh para penyelam tanah air. Namun pemerintah baru sadar dan kemudian Taman Nasional Bunaken (TNB) secara resmi ditetapkan sebagai salah satu taman nasional laut di Indonesia pada Oktober 1991, setelah lebih kurang 20 tahun keindahannya ditemukan oleh 3 orang pelopor usaha penyelaman daerah, yakni dr Hanny Batuna, Loky Herlambang, dan Ricky Lasut. Baru setelah kawasan ini tersohor oleh para penyelam internasional, pemerintah sadar lalu secara bertahap menetapkan wilayah seluas sekitar 89.000 Ha ini menjadi kawasan konservasi.

Taman Nasional Bunaken yang berada di perairan Manado, Sulawesi Utara (Sulut), telah diusulkan masuk World Natural Heritage karena memiliki keunikan tersendiri di dunia.
Salah satu lembaga badan dunia, UNESCO, yang telah meninjau langsung ke Taman Nasional Bunaken di Kota Manado, sangat tertarik akan keindahan alam biota laut yang ada sehingga perlu diberikan penghargaan untuk ditetapkan menjadi World Natural Haritage.
Taman Nasional Bunaken merupakan salah satu keindahan laut yang dimiliki Indonesia dan tidak dimiliki negara lain karena terdapat jutaan biota laut dan karang yang sangat indah.

BENTENG KUTO BESAK

Benteng Kuto Besak merupakan bangunan peninggalan sejarah pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada abad ke-17 Masehi itu, kebudayaan Islam hadir dan terus mengakar, terutama pasca-kemunduran Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-13 Masehi.

Benteng Kuto Besak proses pendiriannya memakan waktu 17 tahun (1780-1797) ini dibangun atas prakarsa Sultan Mahmud Badaruddin. Pada tahun 1797, pembangunan benteng ini selesai, dan mulai ditempati secara resmi oleh Sultan Muhammad Bahauddin pada hari Senin, 23 Sya’ban 1211 Hijriah di pagi hari atau bersamaan dengan 21 Februari 1797 Masehi. Sedangkan putranya yang tertua, yang menjadi Pangeran Ratu (putra mahkota) menempati Keraton Kuta Lama.
Benteng Kuto Besak (BKB) dibangun untuk menggantikan keraton lama, Benteng Kuto Lamo, yang disebut juga Keraton Kuto Tengkuruk atau Keraton Kuto Lamo, yang berlokasi persis di samping kiri. Keraton Kuto Tengkuruk lalu menjadi rumah tinggal residen Belanda. Saat ini, Keraton Kuto Tengkuruk difungsikan menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Posisi BKB yang dibangun di tepi Sungai Musi membujur dari arah hulu ke hilir (barat ke timur). Salah satu ciri khas terletak pada keberadaan tiga bastion (istilah untuk konstruksi batu).

Walau berdiri kokoh, warga Palembang dan wisatawan dari luar daerah dan mancanegara saat ini hanya bisa menyaksikan BKB dari luar. Benteng yang dikelola Kodam Sriwijaya itu telah dialihfungsikan menjadi Kantor Kesehatan Kodam Sriwijaya dan rumah sakit.

Jika dilihat dari daerah Seberang Ulu atau Jembatan Ampera, pemandangan yang tampak adalah pelataran luas dengan latar belakang deretan pohon palem di halaman Benteng Kuto Besak, dan menara air di Kantor Wali Kota Palembang. Di kala malam hari cahaya dari deretan lampu- lampu taman menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan sungai. Pemkot Palembang memiliki sejumlah rencana pengembangan untuk mendukung Plaza Benteng Kuto Besak sebagai obyek wisata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s